SECANGKIR TEH DAN COKLAT PANAS
kau mungkin lupa tentang sore itu kau sedu teh pesananmu dan aku dengan coklat pelega rinduku ada yang beda dari tatapanmu yang sama hanya bias seperti biasa aku dengan celotehanku, berjuang mengungkap yang tersirat dijiwamu tapi kau biarkan bibirmu tetap bungkam, seolah memaksa naluriku untuk faham apa yang kau pendam entahlah, diam ku menatap, meraba, intim masuki fikiranmu namun kosong yang kudapat, meski merapat, tetap jauh dan tak erat biarlah, sampai kamu lelah, dan aku pasrah, atau keadaan yang kamu tunggu untuk menyerah, lalu rasa berubah, gundah, marah dan entahlah, aku atau asa yang salah. diam, aku melihatmu menoleh kekaca bermain dengan cangkir tapi jiwamu berfikir, sambil melihat hujan berdesir, harapan coba kau ukir, tak peduli meski keraguan terkadang mampir hujan belum berhenti, mengerti kalau detik ini takkan kembali, dan esok kita tak duduk disini lagi..berbicara tentang mimpi yang tak bertepi,meski hanya aku yang peduli esok aku tetap kesini, meski...