Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2017

SECANGKIR TEH DAN COKLAT PANAS

kau mungkin lupa tentang sore itu kau sedu teh pesananmu dan aku dengan coklat pelega rinduku ada yang beda dari tatapanmu yang sama hanya bias seperti biasa aku dengan celotehanku, berjuang mengungkap yang tersirat dijiwamu tapi kau biarkan bibirmu tetap bungkam, seolah memaksa naluriku untuk faham apa yang kau pendam entahlah, diam ku menatap, meraba, intim masuki fikiranmu namun kosong yang kudapat, meski merapat, tetap jauh dan tak erat biarlah, sampai kamu lelah, dan aku pasrah, atau keadaan yang kamu tunggu untuk menyerah, lalu rasa berubah, gundah, marah dan entahlah, aku atau asa yang salah. diam, aku melihatmu menoleh kekaca bermain dengan cangkir tapi jiwamu berfikir, sambil melihat hujan berdesir, harapan coba kau ukir, tak peduli meski keraguan terkadang mampir hujan belum berhenti, mengerti kalau detik ini takkan kembali, dan esok kita tak duduk disini lagi..berbicara tentang mimpi yang tak bertepi,meski hanya aku yang peduli esok aku tetap kesini, meski...

SAMPAH

lalu apa yang kau harapkan dari seonggok sampah diruang pengap, belatung merayap, busuk semerbak? menunggu waktu merubahnya menjadi debu, atau kau,aku dan mereka tak lagi disini, termangu, ragu, malu lalu terbujur kaku? ketika sampah saja mampu membuatmu terusik, berbisik mengusir, risih nyinyir menyindir, lalu mengapa ragamu masih diam disini tak beranjak pergi, pelesir membuka tabir, dimana nafas tak ragu mampir,

INI (s. Ardiansyah)

ini, ini yang tak hilang, diam seperti mati, kadang seperti pergi, namun kembali disaat mimpi mulai terhenti. ini, ini yang tak punya tepi, jika berlaripun di gapai, hanya peti mati, kosong tersimpan rapi ini, ini seperti api, semakin besar membakar, kokoh berakar, tinggi mencakar, meski hangus terkapar, debunya tetap tersisa kasar ini, ini tentang nyawa, yang punya asa, rasa dan masa, tertera memberi makna, tapi merusak nada yang mengalun menuju suara ini,ini tentang warna, menghias meski bias, jelas  walau sekilas. ini, ini tentang segumpal darah yang sedikit mengeras, kasat tak terlihat namun berat menerpa raga. dan ini hati

penentuan

begitu bijaknya Tuhan, hingga yang menentukan adalah kematian, jika matimu baik, maka bangkitmu menuju keabadian akan damai, tapi jika matimu buruk, maka bangkitmu menuju keabadian akan terombang ambing menyedihkan.

kaya

jika sukses diukur dengan kaya, maka wajar jika hanya 10 % penduduk dunia yang meraihnya? karna 90 % itu memilih zona nyaman dan zona aman, zona malas dan zona melas, tak mau kerja keras, gensinya diposisi teratas, culas, sukanya meras, pola fikir terbatas....!!

Lelah

kita ini ditakdirkan menjadi pejuang, dan hidup itu ibarat arena untuk melakukan perlombaan, akan ada yang menang dan akan ada yang kalah. jika lelah itu wajar, karna itu symbol perjuangan, anda hanya cukup beristirahat, dan ambil sebuah pilihan, maju menatap lawan, atau mundur tertunduk malu jadi pecundang, itu pilihan.

Tentang Waktu

Entah dari mana asal sebuah kalimat yang mengatakan "biarkan waktu yang menentukan segalanya", begitu hebatnya waktu, sehingga banyak orang yang meggantungkan harapan dan masa depan kepadanya, padahal waktu itu hanya ruang, ruang yang bisa kamu isi apa aja, bisa kamu tata seperti yang kamu mau, jika ingin ruang itu rapi, maka tata dengan tujuan dan kerja keras, jika ingin ruang itu wangi, jangan kotori dengan perbuatan tercela, jika ingin ruang itu menarik, hiasi dengan ilmu yang bermanfaat, maka siapapun yang masuk keruang waktumu, dia pasti betah dan tak ingin beranjak pergi.