SECANGKIR TEH DAN COKLAT PANAS
kau mungkin lupa tentang sore itu
kau sedu teh pesananmu
dan aku dengan coklat pelega rinduku
ada yang beda dari tatapanmu
yang sama hanya bias seperti biasa
aku dengan celotehanku, berjuang mengungkap yang tersirat dijiwamu
tapi kau biarkan bibirmu tetap bungkam,
seolah memaksa naluriku untuk faham apa yang kau pendam
entahlah, diam ku menatap, meraba, intim masuki fikiranmu namun kosong yang kudapat, meski merapat, tetap jauh dan tak erat
biarlah, sampai kamu lelah, dan aku pasrah, atau keadaan yang kamu tunggu untuk menyerah, lalu rasa berubah, gundah, marah dan entahlah, aku atau asa yang salah.
diam, aku melihatmu menoleh kekaca
bermain dengan cangkir tapi jiwamu berfikir, sambil melihat hujan berdesir, harapan coba kau ukir, tak peduli meski keraguan terkadang mampir
hujan belum berhenti, mengerti kalau detik ini takkan kembali, dan esok kita tak duduk disini lagi..berbicara tentang mimpi yang tak bertepi,meski hanya aku yang peduli
esok aku tetap kesini, meski tanpa hujan, meski tanpa tujuan, atau tanpa secerca harapan yang dibalut dengan hela nafas panjang
tanpa tatapan kosong yang sengaja kau pajang, hanya yakin kalau esok akan terang
esok aku tetap disini, merajut mimpi, meski sendiri, kembali terbiasa, tanpa suara, tanpa diam tanda tanya, dan tanpa kamu yang kutanya
bahagialah, jika kau gugup maka harapan akan redup
tersenyumlah, jika kau sedih maka mimpi akan lirih
dan aku? tetap disini, berharap kau kembali, meski hanya sekedar menikmati secangkir teh, coklat panas atau kita ganti dengan secangkir kopi.
kau sedu teh pesananmu
dan aku dengan coklat pelega rinduku
ada yang beda dari tatapanmu
yang sama hanya bias seperti biasa
aku dengan celotehanku, berjuang mengungkap yang tersirat dijiwamu
tapi kau biarkan bibirmu tetap bungkam,
seolah memaksa naluriku untuk faham apa yang kau pendam
entahlah, diam ku menatap, meraba, intim masuki fikiranmu namun kosong yang kudapat, meski merapat, tetap jauh dan tak erat
biarlah, sampai kamu lelah, dan aku pasrah, atau keadaan yang kamu tunggu untuk menyerah, lalu rasa berubah, gundah, marah dan entahlah, aku atau asa yang salah.
diam, aku melihatmu menoleh kekaca
bermain dengan cangkir tapi jiwamu berfikir, sambil melihat hujan berdesir, harapan coba kau ukir, tak peduli meski keraguan terkadang mampir
hujan belum berhenti, mengerti kalau detik ini takkan kembali, dan esok kita tak duduk disini lagi..berbicara tentang mimpi yang tak bertepi,meski hanya aku yang peduli
esok aku tetap kesini, meski tanpa hujan, meski tanpa tujuan, atau tanpa secerca harapan yang dibalut dengan hela nafas panjang
tanpa tatapan kosong yang sengaja kau pajang, hanya yakin kalau esok akan terang
esok aku tetap disini, merajut mimpi, meski sendiri, kembali terbiasa, tanpa suara, tanpa diam tanda tanya, dan tanpa kamu yang kutanya
bahagialah, jika kau gugup maka harapan akan redup
tersenyumlah, jika kau sedih maka mimpi akan lirih
dan aku? tetap disini, berharap kau kembali, meski hanya sekedar menikmati secangkir teh, coklat panas atau kita ganti dengan secangkir kopi.
Komentar
Posting Komentar